BAB II
PERENCANAAN, PELAKSANAAN DAN HASIL PROGRAM
A. Perencanaan Program
Rencana program kerja kukerta angkatan ke VIII di Desa Plakak, Kecamatan Singkep Pesisir, terbagi dalam dua bidang :
a. Bidang Fisik
b. Bidang Non Fisik
1. Sosialisasi Program KKN
Mengawali pelaksanaan program tersebut, tim kukerta Singkep Pesisir yang difasilitasi oleh pihak kampus beserta kecamatan Singkep Pesisir melaksanakan sosialisasi program yang dikemas dalam bentuk Focus Group Discussion terlebih dahulu. Kegiatan sosialisasi program dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Rabu, 02 Agustus 2017
Waktu : 09.00 s/d Selesai
Tempat : Kantor Camat Singkep Pesisir.
Adapun sosialisasi program dihadiri oleh bapak camat singkep pesisir beserta staf, perwakilan mahasiswa KKN kecamatan singkep pesisir.
2. Pendataan, Identifikasi Potensi, Permasalahan Serta Kebutuhan
Pendataan serta identifikasi potensi, permasalahan dan kebutuhan di Desa Plakak dilakukan selama tiga hari, terhitung dari tanggal 02 Agustus s/d 04 Agustus 2017.
Tim melakukan identifikasi dengan cara observasi (menyusuri cakupan wilayah Desa Plakak). Kegiatan observasi juga dijadikan langkah awal tim berinteraksi dengan masyarakat.
Identifikasi juga dilakukan dengan wawancara langsung kepada Bapak BPD, Kepala Dusun, ketua RT/RW maupun Tokoh Masyarakat. Sehingga hasil identifikasi tidak hanya berdasarkan pandangan tim, melainkan juga pihak masyarakat dan perangkat desa.
Dari hasil observasi, tim mengidentifikasi potensi yang ada di Desa Plakak, sebagai berikut : Kawasan Desa Plakak merupakan wilayah pesisir yang memiliki pantai yang bagus untuk dijadikan tempat wisata, yang dapat menambah nilai ekonomis bagi masyarakat tersebut, namun belum dimanfaatkan. Hal tersebut dikarenakan pantai tersebut merupakan tanah milik warga, sehingga dari pihak pemerintah masih melakukan negoisasi kepada masyarkat untuk mengelola pantai tersebut. selain itu di Desa tersebut juga memiliki potensi budi daya rumput laut.
Dari potensi yang telah di uraikan, tim juga mengidentifikasi permasalahan yang ada, sebagai berikut: adanya perkubuan antar RW, sehingga menjadi penghambat keberlanjutan program pemerintah, seperti kurang adanya kekompakan antar RW tersebut dalam mengikuti atau melaksanakan kegiatan desa. Kurangnya sarana dan prasarana dikantor desa sehingga masyarakat kurang dapat mengetahui informasi di desa. banyaknya anak-anak putus sekolah salah satu penyebab yaitu kurangnya transportasi untuk pergi kesekolah yang memiliki jarak cukup jauh dari desa plakak. adanya ketidakpedulian masyarakat terhadap pentingnya posyandu bagi balita. masyarakat juga terbiasa dengan pekerjaan rutin, menjadi faktor penyebab masyarakat kurang tanggap terhadap pengembangan ekonomi. Sehingga kesempatan untuk menggali potensi alam sangat jarang dilakukan.
Adapun kebutuhan untuk menunjang potensi dan solusi penyelesaian masalah yang ada di Desa Pelakak ini, telah tim identifikasikan sebagai berikut : masyarakat memerlukan pendampingan untuk melakukan pengembangan ekonomi dalam memanfaatkan sumber daya alam, pengetahuan akan pentingnya posyandu bagi balita unutk kesehatan, serta memberikan pengetahuan akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak desa plakak
3. Penyusunan Perencanaan dan Langkah-Langkah Kegiatan
Adapun rincian langkah-langkah kegiatan, sebagai berikut :
Waktu Program/Kegiatan Lokasi
Minggu (1) Observasi :
Melakukan pendataan, identifikasi potensi, permasalahan dan
kebutuhan masyarakat. Desa Plakak
Minggu (2) Bidang Non Fisik.
Yakni sosialisasi, kegiatan melayani dalam hal kesehatan, mengajar dalam menggunakan komputer dan baca tulis pada anak-anak.
Desa Plakak
Minggu (3) Bidang Fisik.
Yakni menambah atau memperbaiki sarana prasarana yang
kurang. Adapun yang dibangun ialah papan hadir perangkat desa. Serta gotong royong bersama membersihkan area posyandu. Desa Plakak
Minggu (4) Melanjutkan kegiatan rutin serta fokus ke pembuatan laporan kegiatan kukerta.
Pelaksanaan acara perpisahan dengan masyarakat Desa Kuala Sempang. Desa Plakak
B. Pelaksanaan Program
a. Profil Lokasi KKN
Lokasi pengabdian tim berada di Desa Plakak, tepatnya di Kampung Simpang (RT 01 / RW 01 Dusun 1), Kecamatan Singkep Pesisir, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Kawasan ini menggambarkan kondisi penduduk di daerah pedesaan pada umumnya, di mana mayoritas penduduk bekerja sebagai nelayan.
b. Program dan Uraian Kegiatan
a) Bidang Non Fisik
1. Sosialisasi
Dalam hal ini kami melakukan beberapa sosialisasi yaitu pada minggu pertama kami mengadakan sosialisasi pentingnya pemberian vitamin A kepada balita agar masyarakat dapat ikut serta dalam kegiatan posyandu bulanan. kemudian minggu ke dua melakukan sosialisasi pentingnya pendidikan kepada anak SD 004 Desa Plakak, agar tidak banyak lagi anak-anak putus sekolah di Desa Plakak. serta di minggu ke 3 tim melakukan sosialisasi tentang manfaat makan ikan di SD 004 Desa plakak, agar anak-anak tidak hanya gemar memakan ikan, namun juga tau manfaat dari makan ikan tersebut.
2. Gotong Royong
Untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan menumbuhkan interaksi sosial antar masyarakat, maka tim kukerta dengan bantuan Ketua Kades, RT/RW dan anggota posyandu serta masyarakat melaksanakan gotong royong. Kegiatan tersebut juga menjadi wadah untuk tim agar bisa berbaur dengan masyarakat.
Kegiatan gotong royong yang telah dilaksanakan bersama masyarakat di Desa Plakak, juga menjadi langkah awal agar kegiatan positif yang bisa menjalin keakraban agar tetap bisa berlanjut.
Gotong royong yang dilaksanakan ialah gotong royong pada kawasan tempat posyandu, agar kegiatan posyandu yang akan dilaksanakan berjalan dengan Nyaman. Dilakukan dalam minggu pertama, sehari sebelum dilakukannya posyandu bulanan dan pembagian vitamin A. minggu ke dua gotong royong di area kantor Desa, gotong royong membersihkan pantai, dan gotong royong di area SDN 004 Desa Pelakak. kemudian minggu ke tiga melakukan gotong royong area yang akan dilaksanakannya kegiatan permainan pesta rakyat dalam memperingati HUT RI ke-72.
3. Tim Mengajar
Kegiatan tim mengajar, dimaksudkan agar tim memiliki pengalaman dalam mendidik Anak-Anak SD. Dari hasil wawancara dengan Kepala Sekolah SDN 004 Desa Plakak, tim memperoleh informasi dibutuhkannya bantuan dalam membantu anak-anak SD tersebut dalam memahami pelajaran yang telah diberikan oleh guru. selain itu juga dibutuhkan bantuan agar dapat menumbuhkan rasa untuk terus menjalankan pendidikan. tim juga melakukan kegiatan bimbel untuk anak-anak dari jam 4 sampai jam 5 sore.
Selain membantu di sekolah dalam pendampingan proses pembelajaran, tim juga mengajar mengaji pada anak-anak Desa Pelakak, dan juga melakukan kegiatan bimbel untuk anak-anak dari jam 4 sampai jam 5 sore. Respon anak-anak sangat baik dan bersemangat begitu kami hadir dan menyapa. Tim kukerta juga melatih anak-anak SD 004 menari melayu (tari persembahan) pada acara perpisahan serta penutupan kegiatan pesta rakyat dan pembagian hadiah kepada pemenang.
4. Tim Kesehatan
Disini tim KKN membantu dalam penginputan data-data dari para lansia dan balita di Desa Plakak, ada juga membantu proses penimbangan berat badan, mengukur tinggi badan dan juga memberikan vitamin A kepada setiap balita di posyandu Desa Plakak. Kemudian selesainya kegiatan posyandu, tim ikut membantu dalam membagikan vitamin A ke rumah-rumah warga yang belum sempat untuk datang ke posyandu.
5. Pelatihan Senam
Pelaksanaan kegiatan latihan senam, sebagai wujud menyehatkan badan serta Gerakan Masyarakat sadar kesehatan melalui senam kesehatan jasmani dan rohani. Tingginya antusias ibu-ibu dalam mengikuti latihan, menjadi faktor pendukung latihan ini menjadi kegiatan hari Minggu untuk Ibu-ibu. Kegiatan ini tentunya mendukung perkembangan kualitas sumber daya manusia yakni dalam bidang kebugaran. kemudian senam pagi pada hari sabtu juga rutin dilakukan disekolah SDN 004 Desa Pelakak agar dapat memotivasi anak-anak tersebut mengikuti senam dengan semangat.
6. Panitia Pesta Rakyat
Momen 17-an menjadi kesempatan bagi tim menjadi panitia penyelenggara. Perayaan 17 Agustus sekaligus menjadi pesta rakyat bagi masyarakat Desa Pelakak. Berbagai perlombaan sengaja di konsepkan oleh tim untuk menambah keseruan perayaan yaitu permainan sebanyak 23 permainan. Dari anak-anak hingga orang tua berkumpul untuk merayakan pesta rakyat tersebut. Momen tersebut juga menjadi puncak kedekatan tim dengan masyarakat.
b) Bidang fisik
1. Pembuatan Papan Hadir Perangkat Desa
Pembuatan papan hadir perangkat desa, sebagai kelengkapan infrastruktur di kantor desa. Tujuannya agar setiap pengunjung yang datang mengetahui keberadaan dari perangkat desa. Agar setiap pengunjung tidak perlu lagi bertanya, apakah ada atau tidak ada perangkat desa yang sedang dituju. Sehingga perlulah di buat papan hadir perangkat desa agar mempermudah pengunjung. Tujuan lain dengan dibuatnya papan hadir perangkat desa yakni untuk mendisiplinkan perangkat desa secara tidak langsung.
2. Pembaharuan tugu pembatas Desa
pembaharuan tugu pembatas antara desa Pelakak dengan Desa Lanjut agar pendatang yang baru mendatangi lingga dapat mengetahui batas antara Desa Plakak dengan Desa Kute. Tujuannya agar setiap pengunjung yang datang mengetahui keberadaan Desa Pelakak tersebut.
c) Kegiatan Tambahan
1. Berkunjung ke rumah perangkat desa, kantor desa, sekolah dan pengurus posyandu
Pada minggu pertama tim berkunjung ke Kantor Desa Pelakak, bertemu dengan Bapak BPD, Bapak Kades, serta Kepala Dusun Desa Pelakak. kemudian ke rumah Tokoh masyarakat, kerumah RT/RW desa Pelakak, dilanjuti ke rumah Ketua Karang Taruna, serta Ketua pengurus Posyandu, dan silaturahmi ke Sekolahan bertemu dengan Kepala Sekolah SDN 004 Desa Pelakak.
2. membantu UKM
Pada minggu kedua tim berkunjung kerumah Ketua UKM KUBE desa Plakak, sekaligus ikut membantu dalam melakukan kegiatan usaha kelompok bersama tersebut. usaha kelompok yang dijalankan yaitu membuat kue lampam berisi slai nanas, dan kue lampam yang tidak berisi. Kelompok KUBE tersebut sampai saat ini masih berkembang.
3. Upacara
Tim rutin melakukan upacara pagi setiap senin di SDN 004, dan juga mengikuti upacara 17-an di Kantor Camat Singkep Pesisir.
4. pembuatan taman bunga di SDN 004
Tim bekerjasama dengan pihak sekolah SDN 004 membuat taman membaca untuk anak-anak. Kegiatan tersebut juga dibantu anak-anak dalam mencari botol-botol bekas, tanah hitam, dan juga benih bunga yang akan di tanam.
5. Rewang
Tim ikut membantu rewang dalam mempersiapkan acara nikahan salah satu warga Desa Plakak
6. Melayat
Pada minggu ke empat Tim ikut melayat ke rumah duka warga pada minggu kedua bersama Pak RT/RW, Pemuda kampung dan warga sekitar.
7. Tahlilan
Pada minggu ke empat, tim kukerta kerumah salah satu warga yang baru saja berduka cita atas meninggalnya Ketua Karang Taruna. kemudian tim ikut serta dalam melaksanakan tahlilan di rumah duka untuk mengirim doa untuk Ketua Karang Taruna.
8. Olahraga
Tim menjalankan aktivitas rutin setiap sore bermain volly di sekitar wilayah desa.
9. Rapat 17-an
Tim ikut rapat persiapan pesta rakyat 17-an di balai pertemuan Desa Plakak bersama perangkat desa, BPD, Ketua Karang Taruna, pemuda, dan masyarakat Desa Plakak.
10. Kenduri
Tim ikut membantu dan menghadiri acara kenduri di rumah Bapak Ketua Karang Taruna.
11. Bungkus Hadiah
Tim ikut serta membantu pemuda Karang Taruna membungkus hadiah untuk pemenang kegiatan 17-an.
12. Rapat utuk hari perpisahan
Pada minggu keempat tim menghadiri rapat membahas untuk acara persiapan perpisahan yang di rumah Bapak Kades dan dihadiri oleh bapak Kades, BPD, Kepala Dusun, pemuda Karang Taruna, RT/RW, serta salah satu masyarakat Desa Pelakak.
c. Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan Program
a) Faktor pendukung tim kukerta dalam pelaksanaan program, sebagai berikut :
1. Kerjasama tim yang solid, sehingga program kerja dapat dilaksanakan dengan baik.
2. Adanya dukungan dari pihak desa, RW, dan RT, yang membantu tim dalam perealisasian program.
3. Adanya dukungan dari tokoh masyarakat, pemuda, bahkan pihak luar yang juga berkontribusi dalam mengedukasi masyarakat.
b) Faktor penghambat tim kukerta dalam pelaksanaan program, sebagai berikut :
1. Mayoritas masyarakat yang telah memiliki kesibukan rutin.
2. Wilayah luas yang terdiri dari rumah-rumah dengan jarak yang tidak dekat. Sehingga mempersulit untuk mengumpulkan masyarakat.
d. Hasil Pelaksanaan Program/Kegiatan
Pelaksanaan program/kegiatan yang tim lakukan selama sebulan di Desa Pelakak banyak mengalami pasang surut dalam melaksanakan kegiatan. Pada minggu pertama tim melakukan pendekatan kepada perangkat desa dan masyarakat Desa Pelakak. Pendekatan ini kami lakukan dengan mengunjungi kantor desa, kediaman RT, Kepala Dusun, dan beberapa rumah warga.Pada masa ini, selain silaturahmi kami juga melakukan survey kecil-kecilan dengan cara menggali informasi yang nantinya berguna dalam proses perumusan program kerja kami. Akhir minggu pertama atau awal minggu kedua. Pada minggu ketiga tim melakukan sosialisasi pentingnya pendidikan, dan juga sosialisasi tentang manfaat makan ikan di SDN 004. Adapun hasil dari pelaksanaan keseluruhan program berjalan dengan baik, meskipun di awal kami menemukan sedikit hambatandalam berkomunikasi atau berbaur dengan masyarakat.
BAB III
KESIMPULAN, REKOMENDASI, DAN TINDAK LANJUT
A. Kesimpulan
Dari pemaparan program kerja yang telah dilaksanakan tim, dapat disimpulkan bahwa dari keseluruhan program kerja telah berjalan dengan baik. Hal ini berdasarkan kegiatan tim yang memberikan dampak positif bagi masyarakat maupun pemerintahan. Juga dikarenakan adanya koordinasi yang berjalan lancar baik antar tim maupun antar tim dengan pemerintahan, serta antar tim dengan masyarakat sehingga masukan dan saran diterima baik oleh tim.
Program kegiatan tim yang di bagi menjadi dua, yakni bidang non fisik dan bidang fisik sengaja di desain sesuai dengan kebutuhan dari masyarakat setempat. Sehingga kehadiran tim dapat meringankan tugas pemerintah. Pelaksanaan kegiatan juga bertujuan membangun citra positif bagi Desa Pelakak.
B. Rekomendasi
Selama empat minggu beraktivitas di tengah masyarakat Desa Pelakak, merasakan sendiri situasi dan kondisi yang ada. Dan berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan oleh tim, maka tim memberikan rekomendasi bagi pemerintahan, agar ke depannya melakukan analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan potensi (SWOT) desa sehingga nantinya dalam perumusan program lebih tepat sesuai situasi dan kondisi. Selain itu harus mengedepankan program yang tujuan akhirnya berfokus pada pemberdayaan masyarakat dan pembauran antar sesama warga Desa Pelakak.
Adapun rekomendasi dari tim sebagai berikut :
1. Untuk Kampung Pasir Kuning, sebaiknya ada tindak lanjut yang serius dari desa mengenai abrasi pantai yang terjadi di penghujung perbatasan desa pelakak dengan Desa Kote, memang akan ada perbaikan dari pemerintah kabupaten di tahun 2018, namun sebaiknya pemerintah desa juga harus berinisiatif untuk setidaknya mengatasi masalah tersebut terlebih dahulu sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
2. Untuk Kampung Tengah, adanya akses jalan yang mudah untuk menuju ke pantai serta pengembangan sektor pariwisata yang memadai . Memang terkendala karena akses jalan merupakan tanah warga, namun sebaiknya pemerintah desa mencari jalan keluar terbaik untuk mengatasinya . Karna potensi pariwisata di kampong Tengah sangat besar terutama di area belakang kantor desa yang mana pantainya berhadapan langsung dengan gunung Daik yang tentu saja akan sangat mempesona bagi siapa saja yang melihatnya.
3. Untuk Pemerintah Desa,
- Mengatasi masalah banyaknya anak-anak yang telah lulus SD yang putus sekolah
- lebih banyak melakukan kegiatan yg bersentuhan langsung dengan masyarakat, seperti sosialisasi-sosialisasi tentang pendidikan, berkeamanan di laut, pemberian alat keamanan di laut, dsb.
- Kurangnya lampu jalan di ketiga kampung maupun jalan lintas kampong.
- Menyelesaikan masalah internal antar RW dengan sebaik mungkin, yang mungkin akan mampu menyatukan masyarakat dan mengkompakkan massyarakat agar tercipta Desa Pelakak yang Damai, Aman dan Sejahtera.
- Percepatan pembentukan BumDes, untuk dapat mempromosikan kuliner maupun kue-mue yang dihasilkan KUBE-KUBE dari desa yang akan mampu meningkatkan pendapatan desa serta solusi lain bagi masyarakat sekitar ketika pendapatan nelayan sedang menurun.
C. Tindak Lanjut Program
Adapun program yang diharapkan tetap bisa berlanjut, yakni :
1. Gotong royong desa dan pantai
2. Peningkatan fasilitas desa untuk mempermudah masyarakat mendapatkan informasi dan memperhatikan daerah-daerah yang mempunyai potensi untuk dijadikan sumber pendapatan, baik desa maupun masyarakat sekitar. Sehingga hal-hal tersebut dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.
3. Pengembangan potensi pariwisata dan kuliner.
DAFTAR PUSTAKA
Buku Panduan Kuliah Kerja Nyata Tahun 2017
Monografi Desa Pelakak Tahun 2017
Jumat, 17 Agustus 2018
Kamis, 11 Mei 2017
Senin, 01 Mei 2017
TEKNIK AKUNTANSI KEUANGAN SEKTOR PUBLIK
Teori Akuntansi Sektor Publik
Pengertian
Akuntansi Sektor Publik menurut Indra Bastian menyebutkan bahwa:
“Mekanisme
teknik dan analisa akuntansi yang diterapkan pada pengelolaan dana masyarakat
di lembaga-lembaga tinggi Negara dan departemen-departemen dibawahnya,
pemerintah daerah, BUMN, BUMD, LSM dan yayasan sosial, maupun pada
proyek-proyek kerjasama sektor publik
dan swasta”.
Teori akuntansi memiliki kaitan yang erat dengan akuntansi
keuangan, terutama pelaporan keuangan kepada pihak ekstemal. Teori akuntansi
sektor publik sendiri sebenarnya masih dipertanyakan apakah memang ada teori
akuntansi sektor publik. Sektor swasta yang perkembangan akuntansinya lebih
pesat saja oleh beberapa ilmuwan masih dipertanyakan apakah sampai saat ini
benar-benar memiliki teori akuntansi yang mapan. Suatu teori perlu didukung
berbagai riset yang didalarnnya terdapat hipotesa-hipotesa yang diuji
kebenarannya. Menurut Mardiasmo, teori memiliki tiga karakteristik dasar yaitu
: (1) kemampuan untuk menerangkan atan menjelaskar fenomena yang ada (the ability to explain), (2) kernampuan
untuk memprediksi (the ability to
predict), (3) kemampuan mengendalikan fenomena (the ability to control given phenomena).
Pada dasarnya terdapat tiga tujuan untuk rnempelajari teori
akuntansi yaitu: 1) untuk memahami praktik akuntansi yang ada saat ini, 2)
mempelajari kelemahan dan kekurangan dan praktik akuntansi yang saat ini
dilakukan, dan 3) memperbaiki praktik akuntansi di masa datang.
Pengembangan teori sektor publik untuk memperbaiki praktik
yang saat ini dilakukan. Hal ini terkait dalam upaya untuk meningkatkan
kualitas laporan keuangan yang mampu menyajikan informasi keuangan yang relevan
dan dapat diandalkan (reliable).
Untuk menghasilkan laporan keuangan sektor publik yang
relevan dan dapat diandalkan, terdapat beberapa kendala yang dihadapi akuntansi
sektor publik. Hambatan tersebut adalah objektivitas, konsistensi, daya
banding, tepat waktu, ekonomis dalam penyajian laporan, dan materialistik.
- Objektivitas. Laporan Keuangan disajikan manajemen untuk melaporkan kinerja yang telah dicapai manajemen selama periode waktu tertentu kepada pihak eksternal yag menjadi stakeholder organisasi.Objektivitas diperlukan adanya adanya benturan kepentingan antara manajemen dengan stakeholder. Objektivitas juga dapat dijelaskan melalui contracting theory yang menghasilkan agency relationship Agency.Problem muncul karena adanya opportunistic behavior dari agen, yaitu perilaku manajemen / agen untuk memaksimumkan kesejahteraannya sendiri yang mungkin berlawanan dengan kepentingan prinsipal. Teknik akuntansi yang digunakan manajemen harus memiliki derajat objektivitas yang dapat diterima semua pihak yang menjadi stakeholder.
- Konsistensi. Konsistensi adalah penggunaan metoda/teknik akuntansi yang sama untuk menghasilkan laporan keuangan organisasi selama beberapa periode waktu secara berturut-turut. Tujuannya adalah agar laporan keuangan dapat diperbandingkan kinerjanya dari tahun ke tahun, sesuai prinsip going concern (orientasi jangka panjang).
- Daya Banding. Laporan keuangan sektor publik hendaknya dapat diperbandingkan antar periode waktu dan dengan instansi lain yang sejenis. Daya banding berarti laporan keuangan dapat digunakan untuk membandingkan kinerja organisasi dengan organisasi lain yang sejenis.
- Tepat Waktu. Laporan keuangan harus disajikan tepat waktu agar dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomi, sosial dan politik serta untuk menghindari tertundanya pengambilan keputusan tersebut. Kendala: semakin banyak kebutuhan informasi, semakin banyak waktu yang dibutuhkan sehingga dapat membuat informasi tersebut tidak relevan.
- Ekonomis dalam Penyajian Laporan.Penyajian laporan keuangan membutuhkan biaya, semakin banyak informasi yang dibutuhkan semakin besar pula biayanya. Kendala: berarti bahwa manfaat yang diperoleh harus lebih besar dari biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan laporan tersebut.
- Materialitas. Informasi dianggap material bila mempengaruhi keputusan, atau jika informasi tersebut dihilangkan akan menghasilkan keputusan yang berbeda. Penentuan materialitas bersifat subjective judgement, merupakan professional judgement yang mendasarkan pada teknik tertentu.
Sistem dan Prosedur Akuntansi Sektor Publik
Sistem akuntansi pemerintah daerah meliputi serangkaian
proses ataupun prosedur, baik manual maupun terkomputerisasi, yang dimulai dari
pencatatan, penggolongan dan peringkasan transaksi dan kejadian keuangan serta
pelaporan keuangan dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang
berkaitan dengan pengeluaran pemerintah daerah. Berdasarkan Permendagri No
13/2006, sistem akuntansi pemerintah daerah dikoordinasikan oleh Pejabat
Pengelola Keuangan Daerah (PPKD). PPKD adalah kepala satuan kerja pengelola keuangan
daerah (Kepala SKPKD). Pejabat ini bertugas untuk melaksanakan pengelolaan APBD
dan bertindak sebagai Bendahara Umum Daerah (BUD). Dalam sistem ini, PPKD
dibantu oleh PPK-SKPD melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD.
Pejabat ini bertugas mengloordinasikan pelaksanaan sistem dan prosedur
penatausahaan bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran di tingkat SKPD.
Sistem akuntansi pemerintah daerah secara garis besar terdiri atas empat
prosedur akuntansi yaitu :
- Prosedur akuntansi penerimaan kas. Prosedur ini meliputi serangkaian proses, baik manual maupun terkomputerisasi, mulai dari pencatatan, penggolongan dan peringkasan transaksi dan kejadian keuangan, hingga pelaporan keuangan dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBN yang berkaitan dengan penerimaan kas pada SKPD atau SKPKD.
- Prosedur akuntansi pengeluaran kas. Dalam prosedur ini meliputi serangkaian proses, baik manual maupun terkomputerisasi, mulai dari pencatatan, penggolongan dan peringkasan transaksi dan kejadian keuangan, hingga pelaporan keuangan dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBN yang berkaitan dengan pengeluaran kas pada SKPD atau SKPKD.
- Prosedur akuntansi selain kas. Prosedur ini meliputi serangkaian proses, baik manual maupun terkomputerisasi, mulai dari pencatatan, penggolongan dan peringkasan transaksi dan kejadian keuangan, hingga pelaporan keuangan dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBN yang berkaitan dengan transaksi dan kejadian keuangan selain kas pada SKPD atau SKPKD.
- Prosedur akuntansi aset. Prosedur akuntansi aset meliputi serangkaian proses, baik manual maupun terkomputerisasi, mulai dari pencatatan dan pelaporan akuntansi atas perolehan, hingga pemeliharaan, rehabilitasi, penghapusan, pemindahan, perubahan klasifikasi dan penyusutan terhadap aset yang dikuasai/digunakan SKPKD dan/atau SKPD. Prosedur akuntansi digunakan sebagai alat pengendalian dalam pengelolaan aset yang dikuasai/digunakan SKPD dan/atau SKPKD.
Standar Akuntansi Sektor Publik
Standar akuntansi sektor
publik adalah adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun
dan menyajikan laporan keuangan organisasi sektor publik.Standar akuntansi
sektor publik memberikan kerangka demi berjalannya fungsi-fungsi tahapn siklus
akuntansi sektor publik, yaitu perencanaan, penganggaran, realisasi anggaran,
pengadaan barang dan jasa, pelaporan, audit, dan pertanggungjawaban publik.
Tujuan Penyusunan Pedoman Akuntansi
- Menyediakan organisasi sektor publik suatu pedoman akuntansi yang diharapkan dapat dterapkan bagi pencatatan transaksi keuangan organisasi sektor publik yang berlaku dewasa ini
- Menyediakan organisasi sektor publuk suatu pedoman akuntansi yang dilengkapi dengan klasifikasi rekening dan prosedur pencatatan serta jurnal standar yang telah disesuaikan dengan siklus kegiatan organisasi sektor publik, yang mencakup penganggaran, pembendaharaan dan pelaporan.
Kebutuhan Standar Akuntansi Sektor Publik di
Indonesia
Manfaat Standar Akuntansi Keuangan Sektor Publik
( SAKSP ) adalah :
- Meningkatkan kualitas dan realibilitas laporan akuntansi dan keuangan organisasi sektor publik, khususnya dalam hal ini organisasi pemerintahan.
- Meningkatkan kinerja keuangan dan perekonomian.
- Mengusahakan harmonisasi antara persyaratan atas laporan ekonomis dan keuangan
- Mengusahakan harmonisasi antar yurisdiksi dengan menggunakan dasar akuntansi yang sama.
Menurut
Mardiasmo (Mardiasmo, 2004) ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam
penetapan standar akuntansi, antara lain:
- Standar memberikan pedoman tentang informasi yang harus disajikan dalam laporan posisi keuangan, kinerja, dan aktivitas sebuah organisasi bagi seluruh pengguna informasi
- Standar memberikan petunjuk dan aturan tindakan bagi auditor yang memungkinkan pengujian secara hati-hati dan independen saat menggunakan keahlian dan integritasnya dalam mengaudit laporan suatu organisasi serta saat membuktikan kewajaran
- Standar memberikan petunjuk tentang data yang perlu disajikan yang berkaitan dengan berbagai variabel yang patut dipertimbangkan dalam bidang perpajakan, regulasi, perencanaan serta regulasi ekonomi dan peningkatan efisiensi ekonomi serta tujuan sosial lainnya
- Standar menghasilkan prinsip dan teori yang penting bagi seluruh pihak yang berkepentingan dalam disiplin ilmu akuntansi.
Teknik – Teknik Akuntansi
Keuangan Sektor Publik
- Akuntansi Anggaran .Akuntansi anggaran ( budgetary accounting ) mengacu pada praktik yang dilakuakan oleh banyak organisasi sektor publik, khususnya pemerintah dalam upaya menyajikan akun-akun operasinya dengan menggunakan format yang sama dengan anggarannya. Tujuan praktik ini adalah untuk menekankan peranan anggaran dalam siklus perencanaan-pengendalian-pertanggungjawaban. Ide dibalik akuntansi anggaran ini adalah untuk kemudahan. Kesulitan biasanya muncul karena organisasi yang berbeda biasanya mengadopsi format pelaporan yang berbeda pula. Hal ini disebabkan oleh suatu fakta bahwa perbedaan intrinstik antara jasa yang diberikan dalam organisasi yang berbeda telah tercermin dalam anggaran mereka. Hasil yang lebih bermakna dapat diperoleh dengan membuat akun-akun anggaran yang diklasifikasikan dengan cara tertentu yang spesifik terhadap jasa tertentu namun hal ini menyebabkan ketidakseragaman dalam format akuntansi anggaran. Ada masalah signifikan bahwa organisasi yang berjenis sama dan memberikan jasa yang sama mungkin memiliki perlakuan yang berbeda walaupun akuntansi anggaran telah diadopsi oleh mereka. Hal ini timbul karena ada dua masalah, yaitu :
- Level agregasi. Contoh yang baik di mana level agregasi yang diadopsi oleh akun-akun anggaran mempengaruhi daya bandingnya ada di pemerintah daerah. Satu otoritas mungkin menerbitkan akun-akun anggarannya untuk jasa pendidikan secara keseluruhan.Kekurangan lain dari akuntansi anggaran terletak pada seberapa sering. atau seberapa intensifkah laporan keuangan membandingkan antara anggaran dengan yang aktual terjadi dan menjelaskan perbedaannya. Banyak organisasi yang membuat akun-akun anggaran seiring dengan anggaran namun hanya membandingakan dua diantaranya secara global. Contoh, akun-akun dan anggaran mungkin saja dibuat secara detail tetapi hanya total pembelanjaan bersih untuk setiap divisi yang memberikan jasa tersebut saja yang dibandingkan dengan anggaran, menunjukan apakah ada pembelanjaan yang kurang atau berlebih untuk semua akun, namun hanya untuk menjelaskan perbedaan yang signifikan. Perbedaan yang jumlahnya melebihi presentase atas anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya namun tidak dapat dijelaskan oleh perubahan tingkat harga umum.
- Logika dari akuntansi anggaran . Logika dari akuntansi anggaran adalah bahwa anggaran dan akun-akun harus dibandingkan secara berkesinambungan sehingga tindakan dapat diambil untuk memperbaiki perbedaan tersebut. Hal ini berlaku bagi pengguna eksternal dan internal dari informasi. Dengan melaporkan hanya dua kolom ( anggaran dan aktual saja), tidak hanya tujuan utama dari akuntansi anggaran ini saja yang tidak dapat tercapai, melainkan akan memerlukan banyak waktu untuk menjawab pertanyaana pengguna yang spesifik atas perbedaan yang dapat di hindarkan apabila akun-akun itu sendiri telah menyediakan analisis yang releven. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa akuntansi anggaran lebih berfokus pada bentuk akunnya dari pada isinya.
- Akuntansi Komitmen. Akuntansi komitmen ( commitment accounting ) dapat digunakan bersama, baik dengan basis akuntansi kas maupun akrual. Karena tidak masuk akal untuk menggunakan akuntansi komitmen tersebut untuk beban karyawan, maka akuntansi komitmen hanya mencakup salah satu bagian kecil dalam anggaran organsisasi. Sebagai konsekuensinya, akuntansi komitmen ini hanya merupakan subsistem dalam sistem akuntansi utama organisasi. Meskipun demikian, akuntansi komitmen ini dapat menjadi sangat penting, terutama bagi pemegang anggaran. Akuntansi komitmen mengakui transaksi ketika organisasi telah memiliki komitmen untuk melaksanakan transaksi tersebut. Ini berarti bahwa transaksi tidak diakui ketika ada penerimaan atau pengeluaran kas, juga bukan pada saat faktur diterima atau dikirimkan, namun pada saat yang lebih awal, yaitu pada saat pesanan dibuat atau diterima. Fungsi utama dari akuntansi komitmen adalah dalam kontrol anggaran. Gagasannya adalah bahwa akun-akun bulanan yang mencatat hanya faktur yang diterima atau dibayar memberikan hanya sedikit nilai terhadap proses pengambilan keputusan. Agar manajer dapat mengendalikan anggraan mereka, mereka perlu mengetahui seberapa besar anggaran yang telah menjadi komitmen dalam hubungan dengan pesanan yang dibuat. Kalau manajer hanya menerima akun-akun yang mencakup penerimaan dan pembuatan faktur saja, maanjemen dapat dengan mudah menjadi terlalu terpaku atau terlalu berkomitmen ( over commited ) kepada anggarannya. Tentu saja manajer yang berhati-hati akan mengetahui bahwa akun-akun tersebut tidak memasukan pesanan yang telah dibuat namun fakturnya belum diterima, dan akan membuat catatan meraka sendiri mengenai hal ini sehingga mereka tidak membuat anggaran mereka over committed.Karena berkaitan dengan fungsi utamanya, akuntansi komitmen berfokus pada pesanan yang telah dibuat. Pesanan yang diterima yang berhubungan dengan pendapatan, tidak akan di catat sampai faktur dikirimkan. Masalah pengendalian anggaran tidak mempengaruhi pendapatan dengan cara yang sama seperti halnya pengendalian anggaran memenuhi beban.Walaupun ada kasus yang menyatakan bahwa akuntansi komitmen meningkatkan pengendalian anggaran adalah baik, ada masalah yang turut terlibat dalam mengadopsi akuntansi komitmen ini dalam akun-akun. Masalah ini adalah bahawa pos tertentu yang telah di dukung oleh pengiriman pesanan akan dicatat sebagai beban. Secara umum, tidak ada kewajiban hukum yang ditimbulkan dan pesanan tersebut dapat di batalkan dengan mudah. Maka sulit untuk menerima bahwa pesanan ini adalah beban untuk pariode akuntansi di mana pesanan tersebut baru dibuat.Terdapat banyak masalah yang timbul dalam akuntansi berbasis akrual yang lebih berbahaya ketika organisasi menerapkan sistem akuntansi komitmen ini. Misalnya, ada manajer yang anggarannya masih di bawah batas maksimal sebulan sebelum akhir tahun anggraan. Manajer mengetahui bahwa level normal dari pembelanjaan akan membuat pengeluaran anggaran terlalu rendah ( under-spent) dan hal ini dapat menyebabkan anggaran tahun berikutnya menjadi berkurang. Dalam akuntansi akrual, untuk memastikan bahwa seluruh anggaran di belanjakan, maka pesanan tambahan akan diajukan dan faktur yang diterima akan dicatat. Hal ini menjadi masalah, namun setidaknya dibatasi oleh waktu mulai dari pesanan diajukan sampai dengan faktur tersebut diterima. Jika menggunakan akuntansi komitmen, manajer dapat dengan mudah mengeluarkan pesanan saat mendekati akhir tahun anggaran untuk menghabiskan anggaran tersebut. Sementara, kecil kemungkinannya untuk mencegah pesanan dibatalkan setelah tahun anggaran dalam akun-akun tertentu.
- Akuntansi Dana. Sumber daya keuangan berupa dana yang disediakan untuk digunakan oleh organisasi nirlaba atau institusi pemerintah biasanya mempunyai keterbatasan penggunaan dalam arti dana-dana tersebut dibatasi penggunaannya untuk tujuan atau aktivitas tertentu yang terkadang merupakan syarat dari pihak eksternal yang merupakan penyedia dana. Tidak seperti perusahaan swasta yang mencari laba, organisasi sektor publik mempunyai tujuan-tujuan yang spesifik. Dengan latar belakang seperti itu perusahaan swasta dapat menggunakan sumber daya yang dimiliki untuk keperluan apapaun yang penting bagi meraka adalah adanya laba yang berbeda dengan organisasi sektor publik dimana sumber daya yang ada harus digunakan dengan tujuan tertentu. Contohnya pemerintah meneriman pinjaman dari world bank ( bank dunia ) sebesar RP.10 miliar untuk pembangunan jalan dan jembatan. Maka, tidak ada pilihan lain bagi pemerintah selain menggunakan dana RP. 10 miliar tersebut untuk pembangunan jembatan dan jalan. Secara umum, sangat lazim jika dari keseluruhan dana yang dipunyai organisasi sektor publik, masing-masing mempunyai tujuan tersendiri dalam penggunaannya, baik karena faktor eksternal ( pembatansan eksternal ) faktor internal ( perencanaan manajeman ), merupakan karena peraturan. Untuk mengakomodasi keadaan itu, organisasi sektor publik membuat dana-dana (funds) dalam sistem akuntansinya. Pemasukan yang dimiliki organisasi sektor publik kemudian diklasifikasikan ke dalam dana-dana tersebut sesuai dengan tujuan dan maksud tertentu. Sistem dana ini dimaksudkan sebagai alat kontrol apakah suatu dana tertentu telah digunakan sesuai dengan tujuannya. Adanya keterbatasan penggunaan dana memberikan implikasi akan suatu kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban kepada pihak penyedia dana ( donatur). Oleh karena itu organisasi-organisasi nirlaba dan institusi pemerintah menggunakan akuntansi dana ( funds accounting ) untuk mengontrol dana yang terikat atau dibatasi penggunaannya(restriced funds) tersebut sekaligus untuk menjamin adanya ketaatan atas persyaratan yanga ada. Dana adalah sebuah kesatuan akuntansi tersendiri yang terpisah berdasarkan tujuan tertentu. Dalam satu dana itu, terdapat kesatuan akun sendiri yang terdiri atas aset ( aktiva). Kewajiban dan ekuitas dana. Dengan demikian, sumber daya suatu organisasi sektor publik yang terdiri atas dana-dana tersebut dapat di gambarkan dalam gambar berikut : Penggunaan istilah dana bagi organisasi nirlaba dan institusi pemerintah berbeda dengan istilah dana yang sering digunakan oleh entitas swasta. Bagi perusahaan komerisal, dana adalah bagian dari aktivanya yang dicadangkan karena akan di gunakan atau dialokasikan untuk tujuan tertentu. Sedangkan bagi organisasi nirlaba dan kalangan instansi pemerintah, dana adalah suatu entitas akuntansi tersendiri. Dari kesatuan dana-dana yang dimiliki organisasi sektor publik dapat digolongkan menajdi dua yaitu:
- Dana yang bisa dibelanjakan ( expendable funds). Dana yang disediakan untuk membiayai aktivitas-aktivitas yang bersifat non-business yang menjadi bagian dari tujuan organisasi sektor publik.
- Dana yang tidak bisa dibelanjakan (nonexpendable funds). Dana yang dipisahkan untuk aktivitas-aktivitas yang bersifat bisni. Digunakan sebagai pendukung dari expendable funds.
- Akuntansi Kas. Penerapan akuntansi kas, pendapatan dicatat pada saat kas diterima dan pengeluaran dicatat pada saat kas dikeluarkan. Kelebihan cash basis adalah mencerminkan pengeluaran yang riil, actual, dan objektif. Namun, GAAP tidak membenarkan pencatatan dengan dasar kas karena tidak dapat mencerminkan kinerja yang sesungguhnya. Dengan cash basis tingkat efisiensi dan efektifitas suatu kegiatan, program, aktivitas tidak dapat diukut dengan baik. Sebagai contoh, penerimaan kas dari pinjaman akan dicatat sebagai pendapatan (revenue) bukan utang. Untuk mengoreksi hal tersebut kebanyakan sistem akuntansi kas tidak hanya mengakui kas saja tapi juga mengakui aktiva dan utang yang timbul sebelum terjadi transaksi kas. Namun, koreksi semacam ini tidak dapat mengubah kenyataan setiap waktu,obligasi yang beredar dalam bentuk kontrak atau order pembelian yang dikeluarkan tidak tampak pada catatan akuntansi. Konsekuensinya adalah saldo yang tercatat akan dicatat overstated. Hal tersebut dapat mengakibtkan pemborosan anggaran.
- Akuntansi akrual . Akuntansi akrual dianggap lebih baik daripada akuntansi kas. Teknik akuntansi akrual diyakini dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih dapat dipercaya, akurat, komprehensif, dan relevan untuk pengambilan keputusan ekonomi, social, politik.Basis akrual diterapkan agak berbeda antara properiority fund (full accrual) dan governments fund (modified accrual) karena biaya (expense) diukur dalam properiority fund, sedangkan expenditure difokuskan pada general fund. Expense adalah jumlah sumber daya yang dikonsumsi selama periode akuntansi. Expenditure adalah jumlah kas yang dikeluarkan dan atau dialokasikan selama periode akuntansi. Karena governments fundtidak memiliki catatan modal dan utang (dicatat dan dikategorikan dalam aktiva tetap dan utang jangka panjang), expenditure yang diukur, bukan expense. Berbeda dengan governments fund, yang menjadi kepenting-an properiority fund dan juga organisasi bisnis adalah net income. Full accrual accounting digunakan untuk mencatat revenue ketika diperoleh (earned) dan biaya (expense) pada saat terjadi (incurred). Dengan kata lain, biaya dicatat ketika utang terjadi tanpa memandang kapan pembayaran dilakukan. Pada governmental fund, hendaknya digunakan modified accrual basis. Expenditure di – accrued tetapirevenue dicatat berdasarkan cash basis yaitu pada saat diterima bukan pada saat diperoleh. Pendapatan seperti PPN, PPh, dan fee retribusi dihitung pada saat kasnya. Salah satu pengecualian adalah property tax(PBB) yang diaccrued karena jumlahnya dapat diestimasi secara lebih pasti. Pengaplikasian accrual basis dalam akuntansi sektor publik pada dasarnya adalah untuk menentukancost of service dan charging of service yaitu untuk mengetahui besarnya biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan pelayanan public serta penentuan harga pelayanan yang dibebankan ke publik. Hal ini berbeda dengan tujuan pengaplikasian accrual basis dalam sektor swasta yang dapat digunakan untuk mengetahui dan membandingkan besarnya biaya terhadap pendapatan (proper matching cost against revenue). Perbedaan ini disebabkan karenan pada sektor swasta orientasi lebih difokuskan pada usaha untuk memaksimumkan laba (profit oriented) sedangkan pada sektor publik orientasi difokuskan pada optimalisasi pelayanan publik (public service oriented).
SINGLE ENTRY, DOUBLE
ENTRY & TRIPLE ENTRY
- SINGLE ENTRY. Sistem pencatatan single entry sering disebut juga dengan sistem tata buku tunggal atau tata buku. Dalam sistem ini, pencatatan transaksi ekonomi dilakukan dengan mencatatnya satu kali. Transaksi yang berakibat bertambahnya kas akan dicatat pada sisi penerimaan dan transaksi yang berakibat berkurangnya kas akan dicatat pada sisi pengeluaran. Sistem pencatatan single entry atau tata buku ini memiliki kelebihan, yaitu sederhana dan mudah dipahami. Namun, sistem ini memiliki kelemahan antara lain kurang bagus untuk pelaporan (kurang memudahkan penyusunan laporan), sulit untuk menemukan kesalahan pembukuan yang terjadi, dan sulit dikontrol. Oleh karean itu, dalam akuntansi terdapat sistem pencatatan yang lebih baik dan dapat mengatasi kelemahan tersebut. Sistem ini disebut dengan sistem pencatatan double entry. Sistem pencatatan double entry inilah yang sering disebut dengan akuntansi.
- DOUBLE ENTRY. Sistem pencatatan double entry sering disebut juga dengan sistem tata buku berpasangan. Menurut sistem ini, pada dasarnya suatu transaksi ekonomi akan dicatat dua kali. Pencatatan dengan sistem ini disebut dengan istilah menjurnal. Dalam pencatatan tersebut, sisi Debit berada di sebelah kiri sedangkan sisi Kredit berada di sebelah kanan. Setiap pencatatan harus menjaga keseimbangan persamaan dengan akuntansi.Persamaan dasar akuntansi merupakan alat bantu untuk memahami sistem pencatatan ini.
- TRIPLE ENTRY. Sistem pencatatan triple entry adalah pelaksanaan pencatatan dengan menggunakan sistem pencatatan double entry, ditambah dengan pencatatan pada buku anggaran. Jadi, sementara sistem pencatatan double entry dijalankan, PPK SKPD maupun bagian keuangan atau SKPKD juga mencatat transaksi tersebut pada buku anggaran, sehingga pencatatan tersebut akan berefek pada sisa anggaran.
SUMBER :
Bastian, Indra . 2005 . Akuntansi Sektor Publik . Jakarta : Erlangga .
Mardiasmo . 2009 . Akuntansi Sektor Publik .Yogyakarta : ANDI
Bastian, Indra . 2005 . Akuntansi Sektor Publik . Jakarta : Erlangga .
Mardiasmo . 2009 . Akuntansi Sektor Publik .Yogyakarta : ANDI
Pengukuran Kinerja Sektor Publik
A. Definisi
Kinerja dan Pengukuran Kinerja Sektor Publik
Kinerja adalah gambaran mengenai
tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan dalam mewujudkan sasaran, tujuan,
misi dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu
organisasi.
Pengukuran Kinerja adalah suatu proses penilaian
kemajuan pekerjaan terhadap tujuan dan sasaran yang telah ditentukan
sebelumnya, termasuk informasi atas: efisiensi penggunaan sumber daya dalam
menghasilkan barang dan jasa; kualitas barang dan jasa; hasil kegiatan
dibandingkan dengan maksud yang diinginkan; dan efektivitas tindakan dalam
mencapai tujuan. Pengukuran kinerja digunakan untuk menilai prestasi manajaer
dan unit organisasi yang dipimpinnya.
Pengukuran kinerja sangat penting
untuk menilai akuntabilitas organisasi dan manajer dalam pelayanan publik yang
lebih baik. Akuntabilitas disini bukan sekedar kemampuan menunjukkan uang
publik dibelanjakan, akan tetapi juga meliputi kemampuan menunjukan bahwa uang
publik tersebut telah dibelanjakan secara ekonomies, efisien, dan efektif.
Sistem Pengukuran Kinerja Sektor Publik adalah
suatu sistem yang bertujuan untuk membantu manajer publik menilai pencapaian
suatu strategi melalui alat ukur finansial dan non finansial. Sistem pengukuran
kinerja dapat dijadikan alat pengendalian organisasi, karena pengukuran kinerja
diperkuat dengan menetapkan reward and punishment systems.
Pengukuran kinerja sektor publik
dilakukan untuk memenuhi tiga maksud :
1. Pengukuran kinerja
sektor publik dimaksudkan untuk membantu memperbaiki kinerja pemerintah. Ukuran
kinerja dimaksudkan untuk dapat membantu pemerintah berfokus pada tujuan dan
sasaran program unit kerja. Hal ini pada ahkirnya akan meningkatkan efisiensi
dan efektivitas organisasi sektor publik dalam pemberian Pelayanan publik.
2. Ukuran kinerja sektor publik
digunakan untuk pengalokasian sumber daya dan pembuatan keputusan.
3. Ukuran kinerja sektor
publik dimaksudkan untuk mewujudkan pertanggungjawaban publik dan memperbaiki
komunikasi kelembagaan
Kinerja sektor publik bersifat
multidimensional, Sehingga tidak ada indikator tunggal yang dapat digunakan
untuk menunjukan kinerja secara komperhensif. Berbeda dengan sektor swasta,
karena sifat output yang dihasilkan sektor publik lebih banyak bersifat ingtangible
output, maka ukuran finansial saja tidak cukup untuk mengukur kinerja
sektor publik. Oleh karena itu, perlu dikembangkan ukuran kinerja
non-finansial.
Tujuan Sistem Pengukuran
Kinerja :
a. Untuk
mengkomunikasikan strategi dengan lebih baik (top down and bottom up).
b. Untuk mengukur
kinerja finansial dan non – finansial secara berimbang sehingga
dapat ditelusur perkembangan pencapaian strategi.
c. Untuk
mengakomodasi pemahaman kepentingan manajer level menengah dan manajer bawah
serta memotivasi dan untuk mencapai goal congruence.
d. Sebagai alat untuk
mencapai kepuasan berdasarkan pendekatan individual dan
kemampuan kolektif yang rasional.
kemampuan kolektif yang rasional.
Setelah tujuan pengukuran kinerja
dicapai maka perusahaan akan mendapat manfaat langsung yaitu :
Manfaat Pengukuran Kinerja :
a. Memberikan pemahaman
mengenai ukuran yang digunakan untuk menilai kinerja manajemen.
b. Memberikan arah untuk
mencapai target kinerja yang ditetapkan.
c. Untuk memonitor dan
mengevaluasi pencapaian kinerja dan membandingkannya dengan target kinerja
serta sserta melakukan tindakan korektif untuk memperbaiki kinerja.
d. Sebagai dasar untuk
memberikan penghargaan dan hukuman secara objektif atas pencapaian yang diukur
sesuai dengan sistem pengukuran kinerja yang telah disepakati.
e. Sebagai alat komunikasi
antara bawahan dan pimpinan dalam rangka memperbaiki kinerja organisasi.
f. Membantu
mengidentifikasikan apakah kepuasan pelanggan telah terpenuhi
g. Membantu memahami
proses kegiatan instansi pemerintah.
h. Memastikan bahwa
pengambilan keputusan dilakukan secara objektif.”
B. Peran
Indikator Kinerja dalam Pengukuran Kinerja Sektor Publik
Untuk melakukan pengukuran kinerja,
variabel kunci yang sudah teridentifikasi tersebut kemudian dikembangkan
menjadi indikator kinerja untuk unit kerja yang bersangkutan. Untuk dapat
diketahui tingkat pencapaian kinerja, Indikator kinerja tersebut kemudian
dibandingkan dengan target kinerja atau standart kinerja. Tahap terahkir adalah
evaluasi kinerja yang hasilnya berupa feedback, reward, dan punishment kepada
manajer pusat pertanggungjawaban.
Indikator kinerja digunakan sebagai
indikator pelaksanaan strategi yang sudah ditetapkan. Indikator kinerja
tersebut dapat berbentuk faktor-faktor keberhasilan utama organisasi ( critical
succes factors ) atau bisa juga dikenal dengan CSF dan indikator
kinerja kunci ( key performance indicator ) atau bisa juga
disebut dengan KPI.
Faktor Keberhasilan Kunci / CSF adalah
suatu area yang mengindifikasikan kesuksesan kinerja unit kerja organisasi.
Area ini merefleksikan preferensi manajerial dengan memperhatikan variabel
variabel kunci finansial dan non finansial pada kondisi waktu tertentu. Critical
succes factor tersebut harus secara konsisten mengikuti perubahan yang
terjadi dalam organisasi.
Indikator Kinerja Kunci / KPI merupakan
sekumpulan indikator yang dapat dianggap sebagai ukuran kinerja kunci baik yang
bersifat financial maupun non-financial untuk melaksanakan oporasi dan kinerja
unit bisnis. Indikator ini dapat digunakan oleh manajer untuk mendeteksi dan
memonitor pencapaian kinerja.
Pengembangan Indikator Kinerja
Penggunaan indikator kinerja sangat
penting untuk mengetahui apakah suatu aktivitas atau program telah dilakukan
secara efisien dan efektif. Indikator untuk tiap-tiap unit organisasi
berbeda-beda tergantung pada tipe pelayanan yang dihasilkan. Penentuan
Indikator kinerja perlu mempertimbangankan komponen berikut :
a. Biaya
pelayanan ( cost of service )
b. Penggunaan
( utilization )
c. Kualitas
dan standart pelayanan ( quality and standarts )
d. Cakupan
pelayanan ( coverage )
e. Kepuasan
( satisfaction )
Membuat Sistem Pengukuran Kinerja
Langkah 1 : Memperkirakan Kesiapan Organisasi
Langkah 2 : Merumuskan Tujuan
Langkah 3 : Menyiapkan Pertanyaan Kebijakan
Langkah 4 : Mengembangkan Rencana Kerja
Langkah 5 : Memulai Orientasi dan Pelatihan
Langkah 6 : Memilih Bidang Pelayanan Yang Akan Diukur
Langkah 7 : Merumuskan Misi, Tujuan dan Sasaran
Langkah 8 : Mengenali Pengukuran
Langkah 9 : Membuat Sistem Pengumpulan Data, Analisa dan
Pelaporan
Langkah 10 : Pemantuan dan Evaluasi
C. Komponen yang
Dipertimbangkan dalam Penentuan Indikator Kinerja
Dalam melakukan pengukuran kinerja,
informasi yang digunakan dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu :
Informasi Finansial
Penilaian laporan kinerja finansial
diukur berdasarkan pada anggaran yang telah dibuat. Penilaian tersebut
dilakukan dengan menganalisa varians ( selisih atau perbedaan ) antara kinerja
aktual dengan yang dianggarkan.
Analisis varians secara garis besar
berfokus pada :
a. Varians Pendapatan (revenue
variance)
b. Varians belanja
investasi/modal (expenditure variance)
– Varians belanja
rutin (recurrent expenditure variance)
– Varians belanja
investasi / modal (capital expenditure variance)
Setelah dilakukan analisis varians,
maka dilakukan identifikasi sumber penyebab terjadinya varians dengan
menelusuri varians tersebut hingga level manajamen paling bawah. Hal tersebut
dilakukan untuk mengetahui unit spesifik mana yang bertanggungjawab terhadap
terjadinya varians sampai tingkat manajemen yang paling bawah.
Informasi Non-Finansial
Informasi non-finansial dapat
dijadikan sebagai tolak ukur lainnya. Informasi non finansial dapat menambah
keyakinan terhadap kualitas proses pengendalian manajemen. Teknik pengukuran
kinerja yang komperhensif yang banyak dikembangkan oleh berbagai organisasi ini
adalah Balanced Scorecard. Dengan Balanced Scorecard
kinerja organisasi diukur tidak hanya berdasarkan aspek finansial sajam akan
tetapi juga aspek non-finansial. Pengukuran dengan metode Balanced
Scorecard melibatkan empat aspek, yaitu :
1. Perspektif
Finansial ( financial perspective)
2. Perspektif
kepuasan pelanggan (customer perspective)
3. Perspektif
efisiensi proses internal (internal process efficiensy)
4. Perspektif
pembelanjaran dan pertumbuhan (learning and growth Perspective)
Jenis informasi non-finansial dapat
dinyatakan dalam bentuk variabel kunci (key variabel) atau sering
dinamakan sebagai key succes factor, key result factor, atau pulse
point. Variabel kunci adalah variabel yang mengindikasikan faktor-faktor yang
menjadi sebab kesuksesan organisasi. Jika terjadi perubahan yang tidak
diinginkan, maka variabel ini harus segera disesuaikan. Suatu variabel kunci
memiliki beberapa karakteristik, antara lain:
- Menjelaskan faktor pemicu keberhasilan dan kegagalan organisasi.
- Sangat volatile dan dapat berubah dengan cepat.
- Perubahannya tidak dapat diprediksi.
- Jika terjadi perubahan perlu diambil tindakan segera, dan.
- Variabel tersebut dapat diukur, baik secara langsung maupun melalui ukuran antara (surrogate), sebagai contoh, kepuasan masyarakat tidak dapat diukur secara langsung, akan tetapi dapat dibuat ukuran antaranya, misalnya jumlah aduan, tuntutan, dan demonstrasi dapat dijadikan variabel kunci.
D. Indikator
Kinerja dan Pengukuran Value for Money
Value for money merupakan inti pengukuran kinerja
pada organisasi pemerintah. Kinerja pemerintah tidak dapat dinilai dari sisi
output yang dihasilkan saja, akan tetapi harus mempertimbangkan input, output
dan outcome secara bersama-sama. Bahkan, untuk beberapa hal perlu ditambahkan
pengukuran distribusi dan cakupan layanan ( equity & service
coverage ). Permasalahan yang sering dihadapi oleh pemerintah dalam
melakukan pengukuran kinerja adalah sulitnya mengukur output, karena output
yang dihasilkan tidak selalu berupa output yang berwujud, akan tetapi lebih
banyak intangible output.
Istilah “ukuran kinerja” pada
dasarnya berbeda dengan istilah “indikator kinerja”. Ukuran kinerja
mengacu pada penilaian kinerja secara langsung. Sedangkan indikator kinerja
mengacu pada penilaian kinerja secara tidak langsung, yaitu hal-hal yang
sifatnya hanya merupakan indikasi-indikasi kinerja. Untuk dapat mengukur
kinerja pemerintah, maka perlu diketahui indikator-indikator kinerja sebagai
dasar penilaian kinerja. Mekanisme untuk menentukan indikator kinerja tersebut
memerlukan hal-hal sebagai berikut:
- Sistem Perencanaan dan pengendalian
Sistem perencanaan dan pengendalian
meliputi proses, prosedur dan struktur yang memberi jaminan bahwa tujuan
organisasi telah dijelaskan dan dikomunikasikan ke seluruh bagian organisasi
dengan menggunakan rantai komando yang jelas yang didasarkan pada spesifikasi
tugas pokok dan fungsi, kewenangan serta tanggung jawab.
- Spesifikasi teknis dan standardisasi
Kinerja suatu kegiatan, program, dan
organisasi diukur dengan menggunakan spesifikasi teknis tersebut dijadikan
sebagai standart penilaian.
- Kompetensi teknis dan profesionalisme
Untuk memberikan jaminan
terpenuhinya spesifikasi teknis dan standarisasi yang ditetapkan, maka
diperlukan personel yang memiliki kompetensi dan profesional dalam bekerja.
- Mekanisme ekonomi dan mekanisme pasar
Mekanisme ekonomi terkait dengan
pemberian penghargaan dan hukuman ( reward & punishment )
yang bersifat finansial, sedangkan mekanisme pasar terkait dengan penggunaan
sumber daya yang menjamin terpenuhinya value for money. Ukuran
kinerja digunakan sebagai dasar untuk memberikan penghargaan dan hukuma ( alat
pembinaan )
- Mekanisme sumber daya manusia
Pemerintah perlu menggunakan
beberapa mekanisme untuk memotivasi stafnya untuk memperbaiki kinerja personal
dan organisasi.
Peran Indikator Kinerja bagi
Pemerintah adalah :
- Untuk membantu memperjelas tujuan organisasi.
- Sebagai mengevaluasi target ahkir ( final outcome ) yang dihasilkan.
- Sebagai masukan untuk menentukan skema insetif manajerial.
- Memungkinkan bagi pemakasi jasa layanan pemerintah untuk melakukan pilihan.
- Untuk menunjukan standar kinerja
- Untuk menunjukan efektivitas
- Untuk membantu menentukan aktivitas yang memiliki efektivitas biaya yang paling baik untuk mencapai target sasaran
- Untuk menunjukan wilayah, bagian atau proses yang masih potensial untuk dilakukan penghematan.
Permasalahan teknis yang dihadapi
pada saat pengukuran ekonomi, efisiensi, dan efektivitas ( value for
money) organisasi adalah bagaimana membandingkan input dengan output untuk
menghasilkan ukuran efisiensi yang memuaskan jika output yang dihasilkan tidak
dapat dinilai dengan harga pasar. Solusi praktis atas masalah tersebut adalah
dengan cara membandingkaninput financial (biaya) dengan output
nonfinancial, misalnya biaya unit ( unit cost statistics ). Unit
cost statistics tersebut dapat digunakan sebagai benang merah untuk
mengukur kinerja. Unit-unit kerja pemerintah diharapkan dapat menghasilkan
sejumlah unit cost statistics yang spesifik untuk unit
kerjanya.
Value for Money
Value for money merupakan konsep pengelolaan
organisasi sektor publik yang mendasarkan pada tiga elemen utama, yaitu:
ekonomi, efisiensi, dan efektivitas.
– Ekonomi:
pemerolehan input dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada
harga yang terendah. Ekonomi merupakan perbandingan input dengan input
value yang dinyatakan dalam satuan moneter.
– Efisiensi:
pencapaian output yang maksimum dengan input tertentu
atau penggunaan inputyang rendah untuk mencapai output tertentu.
Efisiensi merupakan perbandingan output/inputyang dikaitkan dengan
standard kinerja atau target yang telah ditetapkan.
– Efektivitas:
tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan. Secara
sederhana efektivitas merupakan perbandingan outcome dengan output.
Secara Skematis, value of
money dapat digambarkan sebagai berikut :
Pengukuran Value For Money
Kriteria pokok yang mendasari
pelaksanaan manajemen publik dewasa ini adalah ekonomi, efisiensi, efektivitas,
transparasi dan akuntabilitas publik. Tujuan yang dikehendaki oleh masyarakat
mencakup pertanggungjawaban mengenai pelaksanaan value for money,
yaitu ekonomi ( hemat cermat ) dalam pengadaan dan alokasi sumber daya, efisien
( berdaya guna ) dalam penggunaan sumber daya, dalam arti penggunaannya
diminimalkan dan hasilnya dimaksimalkan (maximizing benefits and minimizing
cost ), serta efektif ( berhasil guna ) dalam arti mencapai tujuan dan
sasaran.
Agar dalam menilai kinerja
organisasi dapat dilakukan secara obyektif, maka diperlukan indikator kinerja.
Indikator kinerja yang indeal harus terkait pada efisiensi biaya dan kualitas
pelayanan. Sementara itu kualitas terkait dengan kesesuaian dengan maksud dan
tujuan ( fitness for purpose), konsistensi, dan kepuasan publik
( public satistaction). Kepuasan masyarakat dalam konteks tersebut
dapat dikaitkan dengan semakin rendahnya complaint dari
masyarakat.
Pengembangan Indikator Value For
Money
Peranan indikator kinerja adalah
untuk menyediakan informasi sebagai pertimbangan untuk pembuatan keputusan. Hal
ini tidak berarti bahwa suatu indikator akan memberikan ukuran pencapaian
program yang definitif. Indikator value for money dibagi
menjadi dua bagian, yaitu :
- Indikator Alokasi Biaya ( ekonomi dan efisiensi ), dan
- Indikator kualitas pelayanan ( efektivitas )
Indikator kinerja harus dapat
dimanfaatkan oleh pihak internal maupun eksternal. Pihak Internal dapat
menggunakannya dalam rangka meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanan serta
efisiensi biaya. Dengan kata lain, indikator kinerja berperan untuk menunjukan,
memberi indikasi atau memfokuskan perhatian pada bidang yang relevan dilakukan
tindakan perbaikan.
Pihak eksternal dapat menggunakan
indikator kinerja sebagai kontrol dan sekaligus sebagai informasi dalam rangka
mengukur tingkat akuntabilitas publik. Pembuatan dan penggunaan indikator
kinerja tersebut membantu setiap pelaku utama dalam proses pengeluaran publik.
Indikator kinerja akan membantu para manajer publik untuk memonitor pencapaian
program dan mengidentifikasi masalah yang penting.
Tiga Pokok Bahasan Dalam
Indikator Value For Money
Berikut ini akan dijelaskan mengenai
konsep value for money atau yang dikenal dengan 3E.
Ekonomi adalah hubungan antara pasar
dan masukan (cost of input). Dengan kata lain ekonomi adalah prakti
pembelian barang dan jasa input dengan tingkat kualitas tertentu pada harga
terbaik yang memungkinkan (spending less)
Efisiensi berhubungan erat dengan
konsep produktivitas. Pengukuran efisien dilakukan dengan menggunakan
perbandingan antara output yang dihasilkan terhadap
input yang digunakan (cost of output).
Indikator efisiensi, adalah suatu
indikator yang menggambarkan hubungan antara masukan sumber daya oleh suati
unit organisasi ( misalnya : staff, upah, biaya administratif ) dan keluaran
yang dihasilkan indikator tersebut memberikan informasi tentang konversi
masukan menjadi keluara ( yaitu : efisiensi dari proses internal )
Efektivitas, pada dasarnya
berhubungan dengan pencapaian tujuan atau target kebijakan. Indikator
efektivitas, adalah suati indikator yang menggambarkan jangkauan akibat dan
dampak (outcome) dari keluaran (output) program dalam mencapai
tujuan program.
Dari uraian diatas, maka dapat kita
simpulkan bahwa ketiga pokok bahasan dalam value for money sangat
terkait dengan yang lainnya, Ekonomi membahas input, efisiensi membahas input
dan output, dan efektivitas membahas output dan outcome.
Hubungan ini dapat digambarkan sebagai contoh gambar dibawah ini.
Langkah-langkah Pengukuran Value For
Money :
Pengukuran Ekonomi
Pengukuran efektivitas hanya
memperhatikan keluaran yang didapat, sedangkan pengukuran ekonomi hanya mempertimbangkan
masukan yang dipergunakan. Ekonomi merupakan ukuran relatif, Pertanyaan
sehubungan dengan pengukuran ekonomi adalah :
- Apakah biaya organisasi lebih besar dari yang telah dilanggarkan oleh organisasi ?
- Apakah biaya organisasi lebih besar daripada biaya organisasi lain yang sejenis yang dapat diperbandingkan ?
- Apakah organisasi telah menggunakan sumber daya finansialnya secara optimal ?
Pengukuran Efisiensi
Pengukuran Efisiensi. Efisiensi
merupakan hal penting dari tiga pokok bahasan Value for Money. Efisiensi
diukur dengan rasio antara output dengan input. Semakin
besar output dibandinginput, maka semakin tinggi
tingkat efisiensi suatu organisasi.
EFISIENSI = Output
Input
Rasio Efisiensi tidak hanya
dinyatakan dalam bentuk absolute tetapi dalam bentuk relatif. Unit A adalah
lebih efisien dibanding unit B. Unit A lebih efisien dibanding unit tahun lalu,
dan seterusnya. Karena efisiensi diukur dengan membandingkan keluaran dan
masukan, maka perbaikan efisiensi dapat dilakukan dengan cara :
1. Meningkatkan output pada
tingkat input yang sama.
2. Meningkatkan output dalam
proporsi yang lebih besar daripada proporsi peningkatan input.
3. Menurunkan input pada
tingkatan output yang sama.
4. Menurunkan input dalam
proporsi yang lebih besar daripada proporsi penurunan output.
Penyebut atau input sekunder
seringkali diukur dalam bentuk satuan mata uang. Pembilang atau output dapat
diukur baik dalam jumlah mata uang ataupun satuan fisik. ( catatan : Efisiensiseringkali
juga dinyatakan dalam bentuk input/outpu, dengan interpretasi
yang sama dengan bentuk output/input , contoh biaya per
unit output )
Dalam pengukuran kinerja Value
for Money, efisiensi dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
- Efisiensi alokasi
- Efisiensi teknis (manajerial)
Pengukuran Efektivitas
Pengukuran Efektivitas. Efektivitas
merupakan ukuran berhasil atau tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya.
Apabila suatu organisasi berhasil mencapai tujuanya, maka oragnisasi tersebut
dikatakan telah berjalan dengan efektif. Hal terpenting adalah bahwa
efektivitas tidak menyatakan tentang berapa besar biaya yang telah dikeluarkan
untuk mencapai tujuan tersebut. Biaya boleh melebihi dari yang telah
dianggarkan, bisa juga dua kali lebih besar dari apa yang telah dianggarkan.
Efektivitas hanya melihat apakah suatu program atau kegiatan telah mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
Pengukuran Outcome
Pengukuran Outcome. Outcome adalah
dampak suatu program atau proyek terhadap masyarakat. Outcome lebih
tinggi nilainya daripada output, karena output hanya mengukur hasil
tanpa mengukur dampaknya terhadap masyarakat, sedangkan outcome mengukur
kualitas outputdan dampak yang dihasilkan.
Pengukuran outcome memiliki
dua peran, yaitu:
a. Peran
retrospektif
Peran retrospektif, terkait dengan
penilaian kinerja masa lalu, analisis retrospektif memberikan bukti terhadap
realisasi yang baik (good management). Bukti tersebut dapat menjadi
dasar untuk menetapkan terget di masa yang akan datang dan mendorong untuk
menggunakan praktik yang terbaik. Atau dapat juga digunakan untuk membantu
pembuat keputusan dalam menentukan program atau proyek yang perlu dilaksanakan
dan metode terbaik mana yang perlu digunakan untuk melaksanakan program
tersebut.
b. Peran prospektif
Terkait dengan perencanaan kinerja
di masa yang akan datang. Sebagai peran prospektif, pengukuran outcome digunakan
untuk mengarahkan keputusan alokasi sumber daya publik. Analisis Retrospektif
memberikan bukti terhadap praktik yangbaik ( good management ).
Bukti tersebut dapat menjadi dasar untuk menetapkan target di masa yang akan
datang dan mendorong untuk menggunakan praktik yang terbaik. Atau dapat juga
bukti tersebut digunakan untuk membantu pembuat keputusan dalam menentukan
program mana yang perlu dilaksanakan dan metode mana yang perlu digunakan untuk
melaksanakan program tersebut.
Elemen-Elemen Pengukuran Kinerja
Value For Money
BAB
3
Langganan:
Postingan (Atom)


